Korelasi Batuan

Shu mengatakan…

kak, request tentang korelasi donk,, thx yah… 😀

mari kita lihat soalnya!

 suatu batuan sedimen akan dikorelasikan dengan batuan lain yang letaknya berjauhan, maka yang menjadi sarana untuk korelasinya adalah
a. kesamaan ukuran butir batuan
b. kesamaan mineral penyusun batuan
c. kesamaan struktur sedimen
d. kesamaan lingkungan pengendapan
e. kesamaan kandungan fosil

apa sih korelasi batuan itu?
sesuai hukum stratigrafi yang dicetuskan Pak Nicolas Steno, yaitu Hukum Kontinuitas Lateral, lapisan sedimen itu tersebar dalam area yang luaaaaaas di permukaan bumi. jadi lapisan batubara yang ditemukan di suatu tempat di Kalimantan Barat bisa jadi merupakan kelanjutan dari lapisan batubara lain yang ketemu di kalimantan Timur. atau lapisan batupasir di daerah Malang sebenarnya melampar sampai ke Jawa Tengah. Ini sangat mungkin sekali dalam geologi!
Tapi saudara-saudara, menghubungkan batuan di satu tempat dengan tempat lain yang berjauhan letaknya bukan perkara gampang loh. Kita cuma bisa menghubungkan dua lapisan batuan yang terletak di lokasi berjauhan jika mereka: 1) jenis batuannya sama 2) (ini yang paling penting) UMURNYA SAMA.
coba perhatikan ilustrasi berikut.
di sisi kiri, kita jumpai sebuah tebing dengan perlapisan batupasir (A), batulempung (B), dan batulanau (C), batupasir (D), batulempung (E), dan batulanau (F). di sisi kanan yang 500 meter jauhnya  ada tebing lain yang lebih pendek, terdiri atas lapisan batupasir, batulempung, dan batulanau.
ayo kita coba korelasikan.
Syarat pertama: jenis batuannya harus sama. Batupasir cuma bisa dihubungkan dengan batupasir. Batulempung dengan batulempung. batulanau dengan batulanau.
tapi kita punya masalah disini! batu pasir di tebing kanan harus dihubungkan dengan batupasir (A) atau (D) di kiri? batulempung di kanan berhubungan dengan (B) atau (E)? Batu lanau di kiri dengan (C) atau (F)? kita lihat syarat berikutnya.
Syarat kedua: umurnya harus sama. kita harus menghubungkan batupasir di tebing kanan dengan batupasir di kiri yang UMURNYA SAMA. Lah, bagaimana caranya tahu umur batuan ?? tentusaja dengan KANDUNGAN FOSIL DONG! ingat, berdasarkan hukum Suksesi Fauna, setiap kurun waktu geologi punya perwakilan fosil yang khas (fosil indeks). Jadi, kita teliti saja kandungan fosil di lapisan batu pasir di tebing kanan, batupasir (A) dan batupasir (D). Kita lihat, lapisan mana: (A) atau (D) yang kandungan fosilnya menandakan waktu yang sama dengan fosil yang ada di batupasir di tebing sebelah kanan. Eh ternyata nih, fosil indeks di batupasir tebing kanan sama dengan fosil indeks di batupasir (D)! jadi batupasir D -lah yang merupakan kelanjutan dari batupasir di tebing kanan. Anda sudah sukses mengkorelasi batu pasir!

Nge-Trig untuk Cari Ketebalan Lapisan

Luthfi mengatakan… 

kak sau, bahas tentang pengukuran stratigrafi dong. Kan peta geologi, strike, sama dip kan udah, sekalian hitung-hitungannya. Misalnya buat ngukur kedalaman singkapan dll. Makasih 🙂

Sebenarnya, mengukur ketebalan lapisan batuan gak butuh ilmu kebumian, apalagi ilmu nujum… Cukup punya basic ilmu trigonometri lalu pakai nalar sedikit, voila! Ketahuan sudah true depth-nya.
Tapi, ketebalan “sesungguhnya” kayak bagaimana sih ? Sekarang, coba ambil buku terdekat di sekitarmu dan sebuah penggaris. Ukur tebalnya. Pastinya, kamu akan menempatkan penggaris itu dalam posisi lurus, seperti yang diilustrasikan pada gambar berikut.
Photobucket
Inilah ketebalan sesungguhnya.

Bagaimana kalau penggaris itu miring seperti ini?
Photobucket
Hasil yang terbaca adalah ketebalan semu.
Lapisan batuan pun begitu; kamu harus mengukur ketebalan yang tegak lurus dari dasar/atas lapisan.
Masalahnya, sering ahli geologi berjalan-jalan di bukit lalu menemukan singkapan batuan yang terpotong miring sehingga ketebalan yang diukur adalah ketebalan semu. Tidak ada data lain kecuali strike dan dip batuan, serta kemiringan lereng bukit (slope). Padahal, data ketebalan asli super duper vital dalam mencari sumber batubara, misalnya, sehingga potensi ekonominya (berapa kg batubara yang bisa dihasilkan) dapat diketahui sebelum mulai mengeksplorasi. Gimana dong?
{untuk mengingatkan:
dip adalah sudut kemiringan lapisan batuan diukur dari bidang horizontal. Lambang: d
Slope berarti sudut kemiringan lereng diukur dari bidang horizontal. Lambang: s
Tebal sesungguhnya dilambangkan dengan t. Tebal semu dilambangkan dengan w.
Semua pengukuran ini mengasumsikan bahwa “pemotongan” tegak lurus strike (dengan kata lain, true dip-lah yang dipakai).
Lebih jauh tentang dip dan strike ada di artikel Aku Peta.. Aku Peta… Aku Peta Geologi!}
Kasus #1 : dip lapisan searah dengan slope, Dip > Slope
Photobucket

Kasus #2: dip lapisan searah dengan slope, Dip > Slope

Photobucket

Kasus #3 : dip lapisan berlawanan dengan slope, Dip > Slope

Photobucket

Kasus #4: dip lapisan berlawanan dengan slope, Dip > Slope

Photobucket

Kasus #5 : Lapisan Horizontal
Photobucket

Kasus #6: Lapisan Vertikal

Photobucket
Gampang ‘kan?
Jika ada pertanyaan, monggo tuliskan di field komentar di bawah ini  terimakasih!